sphere of innervation

FOOD - FASHION - TRAVEL

IS THERE ANY PRESSURE?

Tell me where our time went
And if it was time well spent
Just don’t let me fall asleep
Feeling empty again
Cause I fear I might break
And I fear I cant take it
Some night I’ll be awake
Feeling empty
I can feel the pressure
It’s getting closer now
We’re better off without you
I can feel the pressure
It’s getting closer now
We’re better off without you
Now that I’m losing hope
And there’s nothing else to show
For all of the days that were spent
Carrying away from hope
Somethings I’ll never know
And I had to let them go
I’m sitting all alone
Feeling empty
I can feel the pressure
It’s getting closer now
We’re better off without you


Pressure? Yes! Do I feel like this? Hmm, I don’t know for sure. Since I moved from my beloved hometown, I don’t feel like someone presses me. hell no. im happy -_-
Not actually. Seems happy but….. if yah forget it.
I like all of my life now. Except one damn thing, I don’t like to be ……’s colleger. Don’t know why. Not about this college is not favorite place and I’m sorry I cant explain any longer.
I’m willing if my fate says if I have to be here. may be I can fix it several years later. Oh no, I mean next year if I have permition. Several days ago, I really felt upset. I really felt alone. Even my brother didn’t know why I cried. When I remind all of my past I cried then I called my beloved mom. My mom was confused too. she didn’t know what to do. She didn’t know how I am now. When she was here, I always told all of my worst days. She knows me better. But, now I don’t even know where do I have to go.
Everything is damning me now. Everything. Everywhere I head just makes me down. It just makes me worse. I don’t have any chance, any choice, and I just have to follow what he has given to me. fckn quote says “He doesn’t give what we want, he gives us what we need”. But, whats about me? I don’t need this fckn circumstance. I do hate this circumstance. Seems like everything blames into me. I don’t feel any comfort.
All days I spent just feels like hell. Moreover, I just got several damn things and the worst things I have ever felt. He disturbed my bad mood. He disturbed my fckn day. Oh, I know what to do. Just ignore all he does and will never respon anything. HE IS THE MOST UNIMPORTANT THING. I guess I’m blinded by his behaviour and then I know what is the effect. And I know I have to keep my eyes widely open. I have pretended if I’m okay and I’m almost tired but I have to pretend If I will be okay. Is it my fault. Hard breath and slowly spell Y E S. too late regret is useless thing. Yes, too late realize if I have bad habit. But there is no time anymore.

I’m sorry mom. I’m sorry readers. It’s damn enough. Thank

cincin

Cincin
“Jaga cincin ini baik –baik ya dik. Mungkin besok kita akan ketemu lagi kalau kamu bisa melarikan diri dari Eyang.” Pesan Bagas kepada adiknya.

“Tidak kak. Pulanglah. Mengalah saja kak, demi kebaikan kita bersama.” Pinta Laras.

“Mengalah, mengalah. Aku selalu mengalah setiap kali dulu mereka mencekokiku dengan teori itu. Tidak, aku ingin bebas melakukan apa yang ku mau. Jika kau masih tahan dengan mereka, ikutlah dengan mereka”

“Kak, Laras tidak mau menjadi anak durhaka kepada orang tua. Mereka memberi amanah kepada kita untuk meneruskan nama dan martabat mereka.”


“Persetan dengan martabat dan semua yang ada untuk mengekangku. Pulanglah daripada nanti kau dimarahi.”

“Baiklah Laras pulang. Kalau bisa kabur diri lagi Laras akan menemui kakak. Ini kak untuk sekedar makan dan minum. Ingat, hidup di jalanan juga membutuhkan uang”, Laras memberikan amplop yang berisi uang.

“Terima kasih dik. Jaga cincin dariku baik-baik ya” Bagas memberi adiknya cincin kuno yang ia tidak tahu kenapa kakaknya agak memaksa memakaikannya.

Laras menuruti apa kata abangnya itu. Dia pulang dan Bagas kembali pada teman-temannya. Yah, kumpulan anak punk yang ingin mencari kebebasan. Mereka hanya mengungkapkan keinginan mereka untuk sekedar bebas. Laras dan Bagas harus berpisah karena memiliki keinginan yang berbeda. Bagas ingin bebas dari Eyang putrinya yang mengharuskan mereka membawa nama bangsawan mereka. Keturunan keraton dan harus menjaga nama baik keluarga. Eyang putri mencekoki mereka bahwa darah bangsawan sangat dihormati. Jadi jangan sembarangan berteman dengan siapapun.
Sampai di rumah, Laras pun juga kembali kepada kehidupannya. Menjaga sikap anggunnya. Belajar ini itu dengan kepribadian yang terjaga dan terhormat. Ketika Laras pulang dan menemui Eyangnya ia menjabat dan mencium tangan Eyangnya.

“Laras, darimana kau mendapatkan cincin itu?”

“Emmm, dari... dari....” menjawab agak terbata-bata.

“Apakah orang tuamu pulang ke Solo? Eyang rasa tidak. Jadi jawab darimana kau mendapatkan cincin itu. Eyang tidak mau cucu Eyang menjadi pencuri. Masih kecil sudah mencuri, keturunan bangsawan seperti kita tidak ada darah maling”

“Eyang, Laras tidak mencuri. Sungguh.”

“Jadi darimana kau mendapatkan itu. Akan ku telpon ayah ibumu”

Laras bingung ingin mengatakan apa kepada Eyangnya. Ia tidak mau Eyang putrinya mengetahui ia telah menemui kakaknya tersebut karena Eyangnya melarangnya. Di sisi lain juga bingung darimana kakaknya mendapatkan cincin itu. Cincin kuno itu.

“Jadi benar kau mencuri cincin itu nak. Sungguh, kau dan kakamu tidak pantas menyandang gelar bangsawan keluargaku. Kakakmu memilih hidup dengan kehidupan orang berandalan dan tidak karuan seperti itu. Sedangkan kau ingin mengikuti jejak kakakmu? Iya? Sebagai pencuri maling”
Laras diam seribu bahasa dan tidak berani menjawab sepatah kata pun. Ia bingung ingin menjawab apa. Tapi ia berpegang teguh pada kata kakaknya untuk menjaga cincin itu.

Keesokan harinya seperti biasa Laras pergi ke sekolah. Sepanjang hari ia memikirkan kakaknya yang putus kuliah karena tidak tahan lagi dengan kekangan Eyang putrinya tersebut. Pada hari itu ternyata ia pulang pagi, dan Laras diajak temannya hanya untuk sekedar main saja. Tapi, dari dulu Laras tidak pernah sekalipun melanggar aturan Eyangnya, pulang sekolah langsung pulang dan tidak mampir ke mana pun.

“Ayolah ras, sekali ini saja. Kau tidak pernah main sekalipun, inilah kesempatanmu. Sekedar bersenang-senang dengan kami. Kami mau nonton bioskop ada film yang bagus lho. Nanti suruh pak Budi menjemputmu di depan gedung bioskop sajalah. Kamu kan belum meneleponnya kan? Nanti berangkatnya bareng kita.” Ajak Ruli temannya.

“Aduh, bagaimana ya. Ya sebenarnya aku juga mau. Tapi.....”

“Ayolah ras, sekali ini saja.”

“Baiklah, aku juga belum menelepon pak Budi”

Laras dan teman-temannya pun akhirnya berangkat menuju gedung bioskop yang dimaksud. Ketika masuk ramai-ramai dan bercanda tawa, Laras tertabrak oleh ibu-ibu yang membawa belanjaan banyak sekali. Tas belanjaan ibu itu terjatuh dan berserakan. Laras pun membantu membereskannya dan langsung menuju antrian tiket bioskop.

Setelah menonton film, Laras menelepon pak Budi untuk menjemputnya. Sesampainya pak budi menjemput di bioskop dan langsung menuju pulang ke rumah. Tak lupa Laras pun mengingatkan pak Budi untuk tidak menceritakan hal tersebut kepada Eyangnya. Pak Budi pun menurut.

Ketika sampai rumah, Laras terkejut dengan kedatangan Ayah Ibunya di rumah dan mereka langsung memeluk Laras. Laras bingung karena Ibunya menangis dan terlihat Eyangnya juga menangis. Menangis, hal yang jarang bahkan tak pernah terlihat oleh Laras tentang Eyangnya menangis. Samar-samar terlihat berita di televisi tentang tawuran sejumlah anak jalanan dengan polisi yang menyebutkan ada sejumlah korban jiwa. Bagas Sastro Hadiwijaya salah satu putera keraton tewas dalam penangkapan tersebut. Laras meraba tangannya untuk mencari cincin yang diberikan kakaknya dan ternyata sekarang tidak ada entah dimana.


gimana? hehehe